Sejarah panjang, tugas yang tetap sama
Dari sebuah ruang kuliah di Yogyakarta pada 1947 hingga sekretariat komisariat di Malang hari ini, yang dijaga adalah komitmen yang sama: keislaman dan keindonesiaan.
Empat penanda penting
Ringkas, tetapi cukup untuk memahami dari mana organisasi ini berangkat dan ke mana ia menuju.
1947
Kelahiran HMI di Yogyakarta
Pada 5 Februari 1947, Lafran Pane bersama empat belas mahasiswa Sekolah Tinggi Islam mendeklarasikan berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam. Dua tujuan awalnya: mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.
1950-an
Menyebar ke kampus-kampus
HMI tumbuh menjadi organisasi mahasiswa dengan jangkauan nasional. Struktur cabang dan komisariat dibentuk agar perkaderan dapat berlangsung sedekat mungkin dengan kehidupan kampus.
1969
Perumusan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan
NDP dirumuskan sebagai kerangka berpikir kader: memadukan tauhid, kemanusiaan, keadilan sosial, dan tanggung jawab ilmiah dalam satu bangunan nilai yang utuh.
Kini
Komisariat Vokasi Universitas Brawijaya
Komisariat ini berdiri di lingkungan Pendidikan Vokasi UB dan berada di bawah koordinasi HMI Cabang Kota Malang. Fokusnya menjawab kebutuhan khas mahasiswa pendidikan terapan: keterampilan yang kuat, dilengkapi kesadaran nilai dan kepekaan sosial.
Berdiri di atas kaki sendiri
Independensi bukan berarti menjauh dari persoalan. Sebaliknya, ia adalah syarat agar kader bisa menilai persoalan tanpa disandera kepentingan golongan mana pun.
Secara etis, independensi berarti kejujuran kader pada hati nuraninya sendiri. Secara organisatoris, ia berarti HMI tidak menjadi bagian dari, atau alat bagi, kekuatan politik mana pun.
Lima Kualitas Insan Cita
- 1Insan akademis
- 2Insan pencipta
- 3Insan pengabdi
- 4Insan yang bernafaskan Islam
- 5Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT